- Posted on
- • Self-Reflection
Tidak Perlu Sempurna untuk Sempurna
- Author
-
-
- User
- Didiek
- Posts by this author
- Posts by this author
-
Beberapa bulan terakhir, saya cukup sering datang ke lokasi rumah yang sedang dibangun.
Awalnya, setiap kunjungan terasa menyenangkan. Saya melihat gambar desain perlahan berubah menjadi bangunan nyata. Pondasi berdiri, dinding mulai terbentuk, atap terpasang. Rasanya seperti melihat sebuah mimpi yang selama ini hanya ada di kepala akhirnya mulai memiliki bentuk.
Namun seiring pembangunan berjalan, saya mulai melihat hal-hal yang sebelumnya tidak ada di bayangan saya. Ada tiang depan rumah yang posisinya tidak benar-benar pas seperti yang saya harapkan. Tidak sampai miring atau bermasalah secara struktur, tetapi cukup membuat bagian atasnya terlihat sedikit kurang presisi jika diperhatikan dengan saksama.
Lalu ada beberapa bagian genteng yang pemasangannya tidak serapi yang saya bayangkan. Ada bercak adukan semen yang tertinggal di beberapa sudut. Beberapa detail kecil terlihat berbeda dari gambaran sempurna yang selama ini saya simpan di kepala.
Yang menarik, hampir tidak ada orang lain yang mempermasalahkannya.
Namun dalam pikiran saya mulai bertanya-tanya:
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Kenapa tidak dibuat lebih rapi?"
"Kenapa hasilnya tidak sama persis seperti yang saya inginkan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu besar. Lama-kelamaan saya menyadari bahwa yang sedang saya hadapi bukan sekadar soal rumah. Saya sedang berhadapan dengan keinginan untuk membuat semuanya sempurna.
Ketika Kenyataan Tidak Mengikuti Gambaran di Kepala
Sebelum pembangunan dimulai, saya dan istri menghabiskan cukup banyak waktu memikirkan desain, memilih material, membandingkan referensi, dan memperhatikan berbagai detail.
Saya ingin rumah ini dibuat sebaik mungkin. Dan menurut saya, itu hal yang wajar.
Kalau kita mengerjakan sesuatu yang penting, tentu kita ingin hasil terbaik. Masalahnya, ada perbedaan besar antara "hasil terbaik" dan "hasil yang harus sempurna."
Di atas kertas, semuanya terlihat mudah. Garis-garis lurus, ukuran yang presisi, sudut yang tepat.
Namun ketika proses benar-benar berjalan di lapangan, ada begitu banyak faktor yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.
Ada keterbatasan manusia.
Ada kondisi material.
Ada interpretasi yang berbeda.
Ada hal-hal kecil yang baru terlihat ketika semuanya sudah terpasang.
Dan sering kali, kenyataan tidak pernah benar-benar identik dengan versi ideal yang ada di kepala kita.
Bukan karena kurang berusaha.
Tetapi karena memang hidup bekerja seperti itu.
Ternyata Bukan Rumahnya yang Membuat Saya Pusing
Suatu hari saya berdiri cukup lama memperhatikan salah satu bagian rumah yang menurut saya kurang pas.
Semakin lama dilihat, semakin banyak kekurangannya.
Lalu saya sadar sesuatu.
Masalah terbesar saat itu bukan terletak pada tiangnya.
Bukan pada gentengnya.
Bukan pada bercak semen yang tertinggal.
Masalah terbesar justru ada di pikiran saya yang terus berusaha melawan kenyataan.
Saya terus berharap sesuatu yang sudah terjadi bisa berubah menjadi sesuai dengan keinginan saya.
Padahal saya tahu itu tidak mungkin.
Dan semakin saya memikirkannya, semakin banyak energi yang habis untuk sesuatu yang tidak lagi bisa saya kontrol.
Ada Ego yang Ingin Segalanya Sesuai Keinginan
Kalau saya jujur, sebagian dari rasa kesal itu sebenarnya berasal dari ego.
Ada bagian dalam diri yang ingin semuanya berjalan sesuai rencana.
Yang ingin setiap detail sesuai ekspektasi.
Yang ingin hasil akhirnya sama persis dengan gambaran yang sudah disusun sejak awal.
Namun proses membangun rumah mengajarkan sesuatu yang cukup sederhana.
Tidak semua hal bisa dikendalikan.
Kita bisa merencanakan.
Kita bisa mengawasi.
Kita bisa berusaha memberikan yang terbaik.
Tetapi selalu ada ruang di mana kenyataan mengambil jalannya sendiri.
Dan mungkin kedewasaan bukanlah kemampuan untuk mengontrol semuanya.
Melainkan kemampuan untuk menerima bahwa tidak semua hal harus berada dalam kendali kita.
Tidak Perlu Sempurna untuk Menjadi Sempurna
Hari ini, ketika saya melihat rumah itu, saya masih bisa menemukan kekurangan-kekurangan yang sama.
Tiangnya belum berubah.
Gentengnya masih sama.
Bekas-bekas kecil itu masih ada.
Tetapi perasaan saya sudah berbeda.
Saya tidak lagi melihatnya sebagai kegagalan.
Saya melihatnya sebagai bagian dari proses.
Sebagai jejak bahwa rumah ini dibangun oleh manusia, bukan oleh mesin yang bekerja tanpa cela.
Dan anehnya, ketika saya berhenti menuntut kesempurnaan, saya justru bisa lebih menikmati hasilnya.
Rumah itu tetap berdiri dengan kokoh.
Tetap nyaman.
Tetap menjadi tempat yang saya impikan.
Kekurangan-kekurangan kecil yang dulu terasa begitu besar perlahan berubah menjadi detail yang membuatnya terasa nyata.
Karena ternyata kesempurnaan tidak selalu berarti tanpa cacat.
Kadang kesempurnaan adalah ketika sesuatu sudah cukup baik untuk menjalankan tujuannya.
Sudah cukup bermakna untuk disyukuri.
Sudah cukup berharga untuk diterima apa adanya.
Pada akhirnya, saya belajar satu hal dari rumah yang sedang dibangun ini:
Tidak perlu sempurna untuk menjadi sempurna.