Exposure

July 17, 2012

Di dalam fotografi, exposure adalah jumlah cahaya yang diterima oleh sensor kamera digital.

Untuk menghasilkan sebuah gambar foto dengan exposure/pencahayaan yang tepat, dibutuhkan perpaduan antara 'kecepatan bukaan' dengan 'besarnya bukaan' aperture. Kita mengenalnya dengan 'Shutter Speed' dan 'F Stop Number'.
Ada faktor lain yang juga mempengaruhi yaitu ISO setting /speed (sensitifitas dari sensor)

Dalam penggunaan kamera modern seperti sekarang, exposure ini kebanyakan sudah di set secara otomatis dan biasanya menghasilkan gambar foto yang cukup memuaskan. Akan tetapi dalam kondisi tertentu, diperlukan pengaturan manual dan tidak bisa mengandalkan pengaturan otomatis. Akan sangat membantu apabila kita memahami lebih jauh cara kerja sebuah kamera.

Baik, kita kupas satu persatu arti dan kegunaan dari istilah yang telah kita sebut di atas.


Shutter Speed

Untuk menangkap gambar, kamera mengambil sumber cahaya dari luar melalui sebuah lingkaran. Lingkaran ini biasa disebut diaphragma/aperture. Kecepatan buka tutup lingkaran ini sewaktu mengambil cahaya, itulah shutter speed. Kecepatan shutter kamera dalam membuka dan menutup kembali.

Shutter speed ini ditandai dengan angka-angka seperti 25, 60, 125, 250, 500, 1000 yang artinya 1/25, 1/60, 1/125, 1/250, 1/500, 1/1000 detik kecepatannya.
Pada dial kamera ada pengaturan 'Tv', maksudnya kita mengatur shutter speed-nya dan besaran aperture akan menyesuaikan untuk mendapatkan hasil pencahayaan gambar yang terbaik.

Dalam prakteknya apabila kita menggunakan shutter speed yang tinggi, benda yang bergerak cepat akan tertangkap menjadi freeze/diam. Seperti apabila kita ingin memotret mobil balap yang melewati podium atau seseorang yang melompat dari papan loncat renang.

Foto di atas adalah seorang pemain kuda lumping yang menyemprotkan bensin dari mulutnya, dengan menggunakan shutter speed 1/500, kita membekukan cipratan bensin tersebut menjadi seperti titik-titik yang diam.

Kebalikannya, apabila kita menggunakan shutter speed yang rendah, alur dari pergerakan sebuah benda akan terekam terus, selama shutter dibuka. Sebagai contoh, ini berguna apabila kita ingin memotret alur air yang mengalir menjadi halus seperti sutera, memotret sinar lampu mobil di malam hari menjadi seperti garis cahaya atau apabila kita sengaja menginginkan ada efek pergerakan dari sebuah obyek foto (Panning). Seringkali diperlukan sebuah tripod dalam penggunaan shutter speed rendah, agar gambar tidak goyang.

Foto di atas merupakan contoh tehnik Panning.
Menggunakan shutter speed yang rendah 1/8 detik, alur pergerakan carousel tradisional ini terlihat bergerak cepat, sementara wajah obyek foto tetap terlihat jelas.
Caranya adalah tekan shutter dengan tetap fokus kepada obyek foto, ikuti arah dan percepatan dari pergerakan obyek foto. Lakukan berulang, sampai didapatkan hasil yang kita inginkan.

Aperture/F Stop Number

Mengulang kembali teori pada bahasan sebelumnya; untuk menangkap gambar, kamera mengambil sumber cahaya dari luar melalui sebuah lingkaran. Lingkaran ini biasa disebut diaphragma/aperture. Besarnya bukaan lingkaran ini sewaktu mengambil cahaya, itulah aperture.

Aperture ini ditandai dengan F Stop Number, seperti f/2.8, f/5.6, f/8, f/16. Apa artinya ini? Sebagai contoh apabila kita menggunakan lensa dengan focal length 80mm dan mengatur  F Stop Number pada f/8, kita dapat mengetahui diameter besarnya bukaan lingkaran diaphragma/aperture 80 dibagi 8, yaitu 10mm.
Semakin kecil angka F Stop Number, semakin besar bukaan diaphragma/aperture.

Pada dial kamera ada pengaturan 'Av', maksudnya kita mengatur aperture-nya dan shutter speed akan menyesuaikan untuk mendapatkan hasil pencahayaan gambar yang terbaik.
Tadi juga sudah dibahas tentang dial pengaturan 'Tv' (pada pembahasan shutter speed), sebagai pelengkap ada pengaturan dial 'M' yang berarti Manual, kita atur shutter speed dan aperture keduanya secara bebas, untuk kreasi pencahayaan foto yang kita sukai.

Lensa yang bermutu baik, biasanya mempunyai bukaan yang besar sepanjang focal length-nya, dengan begitu dapat menyerap cahaya lebih banyak dan dapat memperkecil 'depth of field' yang menimbulkan efek blur untuk background atau foreground sebuah foto. Biasa digunakan untuk detail shot atau portrait fotografi.
Depth of field itu adalah besaran ruang lingkup fokus.

Depth of field juga dipengaruhi oleh panjang focal length lensa dan jarak antara kamera dengan obyek foto.

Apabila membingungkan, cukup diingat dalam prakteknya adalah apabila kita atur F Stop Number pada angka kecil, seperti f/2.8, kita akan mendapatkan efek blur pada background atau foreground-nya (cocok untuk foto detail atau portrait). Sedangkan kebalikannya apabila kita atur F Stop Number pada angka besar seperti f/11, maka seluruh gambar foto akan terlihat tajam (cocok untuk foto landscape).

Berikut contoh penggunaan F Stop Number pada angka kecil.

Pada foto di atas terlihat obyek gelas terlihat jelas, sedangkan background dan foreground terlihat blur.
Blur ini juga disebut dengan istilah 'bokeh'

ISO Speed

ISO dalam fotografi adalah ukuran sensitifitas dari sensor, semakin besar angkanya semakin sensitif, seperti ISO 100, ISO 200, ISO 400, ISO 800, ISO 1600.

Pengguna kamera analog dulu menggunakan film roll, dan membelinya dengan ukuran ASA/ISO tertentu, seperti ASA 100, ASA 400 dan seterusnya. Kurang lebih pengertiannya sama dengan ISO pada kamera digital modern.

Dalam prakteknya, apabila kita akan memotret dalam situasi cahaya yang kurang (dalam ruangan atau malam hari), tapi kita tidak senang menggunakan flash, kita bisa mengatur ISO pada sensitifitas tinggi, misalnya ISO 800 atau ISO 1600.
Dengan begitu kita akan memperoleh kecepatan shutter speed yang cukup agar gambar tidak goyang.

Sebagai catatan, pada kamera point and shoot, dengan sensor yang relatif kecil, pada saat kita set ISO yang tinggi, biasanya akan timbul 'noise' dalam gambar yang dihasilkan.


Demikian kiranya tutorial kali ini mengenai exposure.
Untuk prakteknya dapat mengikuti coaching gratis dan hunting foto yang rencananya akan terus dilaksanakan.

Semoga dapat berguna bagi kita semua.

Salam dan terima kasih.
Didiek.

Go Back

Diek, thank you buat ringkasannya, sangat bermanfaat , krn kemarin pas coaching nyatetnya belum begitu lengkap:)..ditunggu coaching berikutnya

siipp Itha, thanks ya... :)



Comment