Ibadah Haji, Pengalaman Yang Paling Berharga

March 22, 2012

Alhamdulillah saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk dapat beribadah Haji pada tahun 2006.

Diawali dengan niat Ibu kami untuk beribadah Haji, akhirnya saya yang dipilih untuk menemani beliau ke tanah suci.
Mulanya memang agak ragu, karena merasa diri ini belum siap, usia saya 36 tahun kala itu. Akan tetapi setelah banyak merenung akhirnya bulatlah tekad untuk pergi Haji.
Teringat kata-kata pembimbing Haji saya, bahwa tugas 'menemani orang tua' berarti adalah bentuk pasti dari panggilan Allah untuk pergi ke tanah suci, dan pergilah beribadah Haji untuk dirimu juga, bukan hanya sekedar menemani. Bismillah...

Persiapan hanya 3 bulan karena rencana yang cukup mendadak. Saya segera mempelajari tata cara rukun ibadah Haji, ditambah 7 kali manasik dan juga mempersiapkan fisik yang lebih sehat, mengingat beratnya ibadah disana.

Pada saat keberangkatan, tidak lupa saya membawa kamera compact sekedarnya saja, waktu itu Kodak DCS. Tentu tidak bermaksud untuk serius hunting foto, tapi ada beberapa foto yang saya harap dapat kita nikmati bersama.

Kabah, 2006

Kabah, 2006

Masjidil Haram, 2006

Masjidil Haram, 2006

Masjid Nabawi, 2006

Masjid Nabawi, 2006

Masjid Terapung

Masjid Terapung, 2006

Masjid Quba

Jabal Rahmah, 2006

Mina, 2006

Betul-betul sebuah pengalaman spiritual yang tak terlupakan, sering saya meneteskan air mata waktu berada disana, tercampurnya rasa bahagia, haru dan juga penyesalan teringat kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat dalam hidup ini.

Ibadah Haji adalah perjalanan spiritual yang berat dan penuh cobaan.
Tapi dengan niat dan tekad bulat hanya karena Allah SWT, Insya Allah semua dapat dilalui dan kita akan mendapat kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Dari semua ibadah wajib dan pelengkapnya yang kami jalankan, saya belajar bahwa semua dalam hidup kita ini akan didapat dengan niat dan ikhtiar yang maksimal, sedangkan hasilnya seperti apa, adalah ketentuan Allah SWT.

Kadang terjadi hal-hal yang tidak dapat dijelaskan, tapi tetap tekad dan usaha menjadi faktor utama manusia mencapai tujuannya.

Wukuf di Arafah

Teringat semuanya pada saat saya menulis blog ini, betapa berdesakan jutaan manusia melakukan Tawaf, Sa'i, Wukuf di Arafah, Jumrah... Maha besar Allah.
Tak terlukiskan perasaan berada diantara jutaan manusia dengan tidak ada perbedaan, semua kita adalah sama, tidak ada ras, suku, bangsa... semua dengan niat yang sama... Subhanallah.
Juga ditambah dengan memanjatkan doa di tempat-tempat yang Mustajab, kemudian shalat di Hijir Ismail dan mencium Hajar Aswad.
Dan betapa rasa bahagia, haru dan nyaman kita selama berada di Madinah, serasa kita dekat sekali dengan Rasulullah SAW, dengan berkali-kali mengucapkan salam di makamnya, shalat 40 waktu Arbain dan shalat di Raudah.

Mengunjungi kota Madinah membuat kita menyadari akan perjuangan Rasulullah SAW untuk kita, seluruh umat manusia.

Saya sempat mendengar keluhan seorang mualaf berwarga negara asing tentang betapa kasar dan tidak perdulinya banyak orang terhadap orang lainnya.
Saya mengerti maksudnya, seperti tertabrak terdorong pada saat Tawaf, baju sobek berebutan Hajar Aswad atau ikut terlempar batu dan benda lain saat Jumrah, tapi saya katakan semua itu tergantung individu masing-masing, bahwasanya ajaran agama itu sendiri mengajarkan segala kebaikan bagi manusia yang akhirnya berujung kepada akhlak yang mulia.

Sekian dan mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau tulisan yang saya buat.
Bersyukur bagi orang-orang yang pernah mengunjungi tanah suci dan semoga Allah SWT selalu memberi berkah dan ijinnya bagi umat yang belum dan berniat mengunjungi tanah suci.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Wassalam.
Didiek.

Go Back

Comment