Gempa Yogyakarta 2006

April 5, 2012

Pada tanggal 27 Mei 2006, pagi hari pukul 5.53 WIB, terjadi gempa besar di Yogyakarta, berkekuatan 5,9 skala Richter, berpusat di daerah Bantul, berlangsung sekitar 1 menit.
Berdasarkan informasi data dari Yogyakarta Media Center pada tanggal 7 Juni 2006, gempa itu menewaskan lebih dari 5.700 orang, melukai puluhan ribu orang dan menghancurkan ratusan ribu rumah.

Semoga para korban gempa diterima di sisi Allah SWT, dan keluarganya diberikan ketabahan dan kesabaran.

Kebetulan saya sedang berada di Yogyakarta pada saat gempa itu terjadi. Sehari sebelumnya saya sempat mengunjungi Sumur Gumuling, yang merupakan Mesjid bawah tanah yang dipergunakan pada masa Kraton jaman dahulu. Suasananya yang magis membuat saya terpesona dan mengabadikan beberapa gambarnya. Tidak terbayang bahwa esok hari akan terjadi bencana gempa besar itu.


Pada waktu itu, juga diberitakan bahwa gunung Merapi memuntahkan lahar dan awan panasnya, sehingga saya tertarik juga untuk melihatnya. Kemudian setelah mengatur sewa kendaraan untuk menuju ke kaki gunung merapi, saya menyiapkan peralatan untuk dibawa esok hari.

Kami berangkat pukul 3.00 WIB pagi, mengejar waktu sebelum matahari terbit yang akan mengakibatkan aliran lahar tidak terlihat. Sesampai di kaki gunung sekitar jam 4.00 WIB, udara begitu dingin, dan saya mulai memotret, lensa beberapa kali berembun. Waktu itu menggunakan DSLR Konica Minolta dengan lensa panjang.

Saat itu tetap tidak terbayang bahwa dalam waktu 2 jam ke depan gempa besar akan terjadi. Hanya saja memang aktifitas gunung cukup dashyat, sekitar pukul 5.00 WIB Merapi memuntahkan awan panas yang sangat besar, bunyi bergemuruh dan bumi bergetar. Sempat memotret awan panas yang meluncur ke bawah, dan awan yang terkena angin sempat terlihat seperti 'beruang' yang sangat besar.

Segera kami meninggalkan tempat tersebut dan menuju daerah yang lebih aman.


Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta, terasa guncangan keras dalam kendaraan, tapi tidak terbayang betapa besar kehancuran yang diakibatkan oleh gempa tersebut. Pada saat memasuki kota, sekitar pukul 6 lewat, barulah kami menyadari apa yang terjadi, bangunan di kanan kiri jalan luluh lantak, masyarakat semua keluar ke jalan dengan panik. Kami berdoa sepanjang jalan menuju hotel Ibis Malioboro, tempat saya menginap.

Sesampainya disana, keadaan panik dan chaos, semua sudah diungsikan keluar hotel. Saya melihat bangunan hotel sudah porak poranda dan retak-retak dindingnya. Dalam keramaian itu saya hampiri seorang petugas yang membawa walkie talkie, dan saya katakan bahwa baru kembali dari Merapi dan perlu masuk ke kamar hotel di lantai 7. Petugas itu ragu-ragu tapi akhirnya menemani melalui tangga darurat, listrik mati sehingga lift dan lampu semua tidak berfungsi. Sepi di dalam hotel, gelap di beberapa lokasi, saya gunakan sinar cahaya dari hand phone untuk menerangi sedikit.

Kondisi kamar berantakan, seperti ada ledakan di dalam kamar, sempat tertegun beberapa saat. Kemudian segera saya mengumpulkan barang-barang yang penting dan memasukannya ke dalam tas. Walkie talkie petugas berbunyi dan mengumumkan bahwa akan terjadi gempa susulan, dan tak berapa lama petugas itu sudah tidak terlihat lagi. Karena terburu-buru saya tidak sempat mengambil gambar.

Setelah sampai di bawah lagi di luar pekarangan hotel bersama yang lain, baru saya sempat mengambil gambar keadaan hotel..



Tak lama, tiba-tiba orang-orang berteriak-teriak "tsunami tsunami... tsunami sudah sampai keraton... lari...!!" Waktu itu ketakutan tsunami yang terjadi di Aceh 2004 masih terasa sekali. Akibatnya semua orang panik berlarian membawa barangnya masing-masing. Mobil dan sepeda motor membunyikan klaksonnya tiada henti, semua ingin duluan. Becak pun berlari kencang tanpa penumpang. Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu, tapi keyakinan bahwa laut agak jauh letaknya membuat saya tidak ikut berlarian dan mengambil jalan yang berlawanan arah dengan yang lainnya. Handphone tidak berfungsi, tidak ada sinyal.

Setelah menyusuri jalan yang sepi, saya melihat seorang tukang becak yang terlihat sangat tenang. Saya katakan "Bapak tidak ikutan mengungsi Pak?" dia menjawab "Wah kalau saya sih, kapan saja Gusti Allah mau mengambil nyawa saya, dimanapun akan sama saja". Setelah mengobrol sebentar dan menenangkan diri, saya menanyakan kepada bapak itu "Pak, apa mau mengantar saya mencari losmen atau hotel yang buka?" Tanpa ragu dia menjawab "Inggih Mas..."

Setelah mencoba beberapa tempat, akhirnya kami menemukan losmen yang bersedia menampung. Akan tetapi karena banyaknya pendatang yang mengungsi, saya cuma diberi waktu sampai sore hari dan harus pindah ke tempat lain. Losmennya nyaman, bangunan tua, kelihatannya lebih kuat dibanding bangunan baru yang kebanyakan sudah hancur. Saya sempatkan untuk makan dan beristirahat sejenak, mencari informasi. Gempa susulan terus berlangsung, kadang dalam hitungan menit terjadi guncangan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, ternyata bandar udara Yogyakarta lumpuh, alternatif untuk pulang ke Jakarta adalah menggunakan mobil ke Solo dan terbang ke Jakarta, atau menggunakan kereta api. Tapi karena sulitnya mencari mobil untuk pergi ke Solo, saya mencoba peruntungan pergi ke stasiun kereta api. Disana berhasil didapat tiket kereta api melalui calo, untuk keberangkatan esok hari.

Sore hari seperti disyaratkan, saya meninggalkan losmen dan akhirnya menemukan hotel untuk bermalam. Kondisi hotel sangat tidak nyaman, tapi tidak ada pilihan lain. Keesokan harinya saya segera menuju stasiun kereta api dan pulang ke Jakarta, Alhamdulillah...

Pasti ada hikmah dari setiap bencana yang terjadi, semoga negara kita tercinta ini selalu dalam lindungan Allah SWT., Amin...

Go Back

sungguh getir jika ingat waktu itu, saya termasuk salah satu di dalamnya, alhamdulillah saya dan keluarga selamat dan tidak terluka, saat itu saay kira juga Merapi meletus, saat ini saya juga sedang menulis tentang gempa jogja nih, ee kebetulan baca tulisan anda jadi tau gambaran di kota waktu itu. Saat terjadi gempa saya di daerah Bondalem, Sumbermulyo, Bambanglipuro bantul (Rumah Mertua), hampir 90% rumah roboh.satu dusun yang meninggal 11 orang.

@kusnanto

Salam kenal Mas Kusnanto.
Betul getir mengingat pengalaman saat itu, senang rasanya anda comment di blog ini.

Alhamdulillah Mas Kusnanto dan keluarga selamat, walaupun ada kerugian besar harta benda.
Semoga para korban diterima di sisi Allah SWT.

Sukses untuk tulisan tentang gempa Yogyakarta yang akan Mas Kusnanto kerjakan, saya akan senang sekali untuk membacanya.

Salam buat seluruh keluarga.
Terima kasih.
Didiek.



Comment