From Jakarta to Shirakawa-go, jalan-jalan hemat (tapi nyaman) ke Jepang, Part 2

March 4, 2013

Read Part 1: Tokyo, Hakone, Osaka, Hiroshima, Kyoto

Just a reminder, please respect copyrights for all the photographs in this blog.

Part 2: Takayama, Shirakawa-go, Tokyo

Hari keenam…

Pagi hari kami sudah check out dari hotel membawa koper untuk berpindah kota ke Takayama. Kembali berolahraga berjalan kaki menuju stasiun Namba, dan naik subway ke stasiun Shin-osaka. Kita menaiki Shinkansen (Kodama). Kereta Shinkasen tidak ada yang langsung dari Osaka ke Takayama, kita berganti kereta di Nagoya baru menuju ke Takayama, menggunakan kereta Limited Express Hida. Total lama perjalanan sekitar 4 jam. Kereta Limited Express tidak sebaik Shinkansen, tapi tetap nyaman dan cepat.

Pemandangan indah kami temui selama perjalanan ke Takayama. Dan mendekati tujuan, salju sudah terlihat dari jendela kereta, betapa menyenangkan buat kami.

Takayama berpenduduk kurang dari 100.000 orang. Takayama artinya adalah 'tall mountain'. Kota dan budayanya sudah terbentuk dari abad 16. Karena letaknya di ketinggian dan terpisah dari area Jepang lainnya, kota ini menjadi terisolasi dan membentuk budayanya sendiri selama lebih dari 300 tahun.

Sesampainya di Takayama, udara dingin langsung menyergap kami begitu turun dari kereta. Di daerah Takayama dan Shirakawa-go suhu bisa mencapai -20 C. Untuk kita yang tinggal di daerah tropis agak mengagetkan rasanya,. Teringat saya akan film komedi Cool Running… ;)

Tips titipan dari sahabat saya untuk dimuat dalam blog ini, adalah peralatan melawan hawa dingin. Jangan lupa thermal, long john, coat, sarung tangan, boots atau ditambah topi kepala, penutup kuping, penutup hidung kalau sedang dingin sekali.

Letak hotel kami di Takayama cukup dekat dari stasiun, berjalan kaki hanya sekitar 5 menit. Untuk harga hotel yang sama dengan di Tokyo, kita bisa mendapatkan hotel yang bagus disini termasuk sarapan. Hotelnya bernama Best Western Hotel Takayama. Staf-nya juga ramah, sangat kami rekomendasikan.

Setelah check in, kami langsung mengatur kepergian kami esok pagi ke Shirakawa-go menggunakan bus. Menurut informasi, 5 tahun lalu menuju Shirakawa-go menghabiskan waktu lebih dari 6 jam dari Takayama, tapi pemerintah Jepang sudah membuatkan jalan tol dan juga terowongan menembus gunung perbukitan, sehingga sekarang waktu tempuh ke Shirakawa-go kurang dari 1 jam menggunakan bus.

Setelah urusan booking selesai, kami langsung berkeliling kota Takayama. Kotanya kecil dan sepi, indah sekali.

Kami makan siang di kedai tempura pinggir jalan, rasanya enak sekali. Setelah makan kami menyusuri Kokobunji Street dan menemukan Kokobunji Temple.

Sesuatu yang menarik kami temui di pelataran depan Kokobunji Temple, banyak digantung boneka-boneka kecil lucu berwarna merah.

Belakangan kami ketahui bahwa boneka itu adalah Sarubobo, merupakan boneka asli, maskot dari daerah Hida, termasuk Takayama. Kami sendiri akhirnya membeli suvenir Sarubobo dalam bentuk magnet, gantungan handphone dan kunci, juga beberapa box kue Sarubobo, sebelum meninggalkan Takayama... :)

Mengapa Sarubobo berwarna merah? Jaman dahulu para Ibu membuat boneka Sarubobo dari sisa kain Kimono. Pada abad 17 timbul wabah smallpox, mereka mulai membuat Sarubobo berwarna merah, agar anak-anak mereka sehat, karena warna merah dipercaya menjadi kekuatan melawan penyakit.

Mengapa Sarubobo tidak mempunyai wajah dan mata? Tanpa wajah dan mata dipercaya Sarubobo dapat lebih mencerminkan perasaan kita. Apabila kita sedang sedih, Sarubobo akan ikut sedih dan menghibur kita. Dan jika kita sedang gembira, Sarubobo juga ikut senang dan tersenyum.

Tertulis pada dinding toko, label dan kemasan suvenir, "We hope your Sarubobo will keep you healthy and happy"... :D

Apabila anda berkunjung kesini, jangan lupa membeli beberapa suvenir Sarubobo, karena tidak ditemukan di daerah lain, kecuali di daerah Hida.

Kembali kami meneruskan berjalan kaki berkeliling kota. Selama perjalanan, pemandangan kota tua Takayama sangat mengesankan.

Kami berempat tidak mengetahui berapa derajat suhu saat itu di Takayama, tapi dinginnya menembus ke dalam badan. Kecuali saat memotret, tangan kami selalu di dalam kantong coat dan menggunakan sarung tangan. Karena dinginnya udara, dua teman saya memilih kembali ke hotel dan beristirahat. Saya teruskan berjalan berdua melalui Yasukawa Street menuju ke Higashiyama Walking Course area. Perjalanan menuju kesana jalannya agak menanjak, jadi berjalan santai saja untuk menghemat energi.

Tempat ini merupakan walking course area, banyak pemandangan menarik di tempat ini.

Selain temple, bangunan rumah dan taman yang indah, kami juga menjumpai area pemakaman.

Matahari mulai terbenam, dan kami memutuskan kembali ke hotel terlebih dahulu.

Tetap saja ada pemandangan menarik di setiap sudut jalanan Takayama, beberapa kali kami berhenti dan menjepret shutter kamera.

Sesampainya di hotel, kami beristirahat sejenak, kemudian keluar lagi mencari makan malam. Makanan istimewa di daerah ini adalah Hida beef. Daging berlemak yang lezat dan sudah terkenal dimana-mana. Rasanya tidak lengkap kalau tidak mencicipi Hida beef di Takayama. Setelah mencari informasi, akhirnya kami tentukan untuk makan malam di restoran Maruaki.

Berangkatlah kami berjalan kaki menuju restoran Maruaki. Di Takayama, hampir semuanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Sesampainya disana, kami pun tambah yakin, karena di kaca pintu masuk, terdapat sticker recommend by Trip Advisor.

Dagingnya terasa meleleh di mulut, lezat sekali. Kami makan dengan nikmat sambil tersenyum bahagia... :) Harganya per orang sekitar 300 ribu, cukup mahal buat kami, tapi merupakan pengalaman kuliner yang sangat memuaskan.

Harga Hida beef di setiap restoran bervariasi, dan terpampang di depan restoran, sehingga kita dapat membandingkan terlebih dahulu dan anda dapat memilih sesuai budget.

Sebagai tambahan info, kami perhatikan di semua tempat makan di Jepang, mereka selalu memberikan air minum dengan es batu, walaupun udara sedingin apapun. Jadi buat yang kedinginan, mintalah air tanpa es dari awal pemesanan.

Dengan perut kenyang, kami tidur nyenyak malam itu... Zzz... zz...

Hari ketujuh, kami bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap diri menuju Shirakawa-go. Kami pilih bus pagi hari, agar dapat kembali ke Takayama sebelum gelap. Saya browsing internet mencari info suhu udara pagi itu dan didapatlah -18 C, waakk... Kebetulan saya chat dengan kakak di Ithaca, sekalian menanyakan apakah mungkin -18 C dan seperti apa rasanya. Bbrrr... Pesannya adalah berhati-hati dan jangan terlalu lama di udara terbuka, gunakan semua penghangat yang ada.

Setelah menggunakan hampir semua baju di koper kami untuk menahan dingin, kami keluar kamar dan menuju bus. Karena waktu masih memungkinkan, kami sempat sarapan di hotel selama 30 menit, makanannya lezat.

Jam 7 kami menaiki bus dan berangkat ke Shirakawa-go. Sepanjang perjalanan, kami kembali disuguhkan pemandangan luar biasa, gunung-gunung bersalju. Jalanan darat melalui terowongan yang menembus bukit gunung sepanjang 11 km. Saya tertegun betapa seriusnya pemerintah Jepang memikirkan sarana transportasi di negaranya. I wish...

Saya kutip dari tulisan sebelumnya di awal blog ini; Shirakawa-go merupakan desa tradisional di area Gifu, Jepang yang dinyatakan sebagai UNESCO’s World Heritage Sites. Shirakawa merupakan daerah utama hujan salju besar di dunia, dan tempat paling bersalju di Jepang, dengan area hutan sebesar 95,7%. Karena cuaca seperti itu disana, diciptakan rumah Gassho-zukuri, yang terdaftar juga sebagai Cultural Heritage Sites.

Sesampainya di Shirakawa-go, kami langsung menuju lokasi view point terbaik. Lokasinya dari atas, tepat sekali untuk memotret seluruh area Shirakawa-go. Kami sangat beruntung hari itu cerah, desa Shirakawa-go tidak tertutup awan kabut. Indah sekali, salah satu tempat terbaik yang pernah saya lihat.

30 menit penuh saya tidak berhenti menekan tombol rana kamera, panik melihat pemandangan menakjubkan tersebut.

Berikut saya gunakan teknik foto panorama, menggunakan 2 frame foto yang saya satukan (photo merge).

Berikut menggunakan 5 frame foto.

Adapun panduan dan galeri teknik foto panorama ini dapat dilihat di blog saya, http://www.didiek.com/panorama.

Dari area viewpoint, kami masuk ke dalam desa Shirakawa-go. Untuk masuk ke dalam desa, kita harus melalui suspension bridge melewati sungai di bawahnya. Terbayang betapa terpencilnya desa ini sebelumnya.

Setelah masuk ke dalam desa Shirakawa-go, terlihat dari dekat rumah-rumah Gassho-zukuri. Kami berjalan diantara rumah-rumah tersebut. Masing-masing rumah terlihat cukup besar dan indah. Di dalam desa saya merasa masuk ke dalam mesin waktu, dan berhenti di masa lalu.

Kita diperbolehkan melihat ke dalam rumah-rumah tersebut, dengan meminta secara sopan kepada penghuni rumah. Supaya lebih puas, kita juga dapat memasuki beberapa rumah besar yang memang diperuntukkan untuk menerima kunjungan, dengan membeli tiket masuk sekitar 50 ribu rupiah. Salah satu yang direkomendasikan adalah Wada House. Kami memutuskan masuk ke dalam Wada House untuk melihatnya.

Di lantai bawah terdapat ruang tamu, tempat sembahyang dan ruang memasak/ruang makan.

Tangga menuju ke lantai dua, di tengahnya terdapat semacam tempat penyimpanan barang-barang.

Lantai dua terbuka luas tanpa ada sekat ruangan.

Peralatan bekerja dan keperluan sehari-hari.

Tangga ke lantai ketiga (ruangan di atap), akan tetapi pengunjung dilarang naik ke atas.

Setelah melihat isi dalam rumah Gassho-zukuri-Wada House, kami melangkah pulang meninggalkan desa Shirakawa-go dengan berat hati. Ingin rasanya lebih lama berada di desa tersebut.

Sebenarnya ada beberapa rumah di Shirakawa-go yang dijadikan guest house dan kita bisa menginap, akan tetapi tidak dianjurkan pada waktu winter, mengingat udaranya sangat dingin.

Saya meninggalkan foot print disana, tepatnya kejeblos pada saat asik memotret... :D

Bye bye Shirakawa-go... Semoga bisa kembali suatu hari nanti.

Di perjalanan pulang, kebanyakan penumpang bus tertidur, mungkin kelelahan setelah berkeliling Shirakawa-go, sementara kami memilih untuk melihat-lihat hasil foto di kamera.

Setibanya di Takayama, hari masih terang dan kami kembali berjalan kaki keliling kota, mengunjungi tea house dan melihat kehidupan di kota kecil Takayama.

Tak lupa kami mampir ke Nakabashi Bridge, yang merupakan jembatan utama di kota Takayama. Pemandangannya bagus sekali.

Malam harinya kami berbelanja suvenir dan oleh-oleh, karena besok kami akan kembali ke Tokyo. Bye bye Takayama... Terima kasih untuk semuanya, semoga bisa bertemu kembali.

Hari kedelapan, kami menuju Tokyo menggunakan kereta Limited Express Hida, berganti kereta di Nagoya menggunakan Shinkansen Hikari tujuan Tokyo. Total perjalanan sekitar 4,5 jam.

Setibanya di stasiun Tokyo, hari sudah gelap. Kami sempatkan memotret interior kubah dan bangunan Tokyo Station Marunouchi Building. Stasiun ini merupakan stasiun yang tersibuk di Jepang, dibangun tahun 1914 dan baru selesai dipugar sesuai design aslinya.

Di Tokyo, kami kembali menginap di Tokyo Plaza Hotel.

Hari kesembilan...

Pagi-pagi kami sudah menyusuri kota Tokyo, udara dingin dan angin yang cukup kencang menemani kami di pagi hari itu.

Rencana kami hari ini adalah mengunjungi Tokyo Imperial Palace. Dari hotel kami ke stasiun Shin-okubo lalu menuju ke stasiun Tokyo, dan diteruskan berjalan kaki ke Tokyo Imperial Palace.

Tokyo Imperial Palace merupakan tempat tinggal dari keluarga kekaisaran Jepang. Dibangun di tempat Edo Castle dahulu berdiri. Nilai tanahnya sangat tinggi. Sebagai ilustrasi dikatakan nilainya melebihi seluruh real estate yang ada di California.

Perjalanan kami lanjutkan ke Akihabara, ini adalah tempat favorit saya... :D Kita dapat melihat barang elektronik, komputer, kamera, anime, toys dan banyak lagi lainnya, baik yang baru maupun bekas, dengan harga yang menarik. Anda mencari barang elekronik terbaru? Disini tempatnya,. Come, come...

Tempat ini dinamakan Akihabara Denki yang berarti Akihabara Electric Town.

Di luar dugaan, ternyata semua sahabat saya pun menyukai area ini. Bayangkan kami datang dari 1.30 siang dan baru keluar dari Akihabara jam 8 malam, dimana toko-toko sudah mulai tutup.

Teman saya membeli Samsung Galaxy Note dengan selisih harga 2 juta lebih murah dari harga di Jakarta, duty free, no tax. Kemudian teman kami lainnya membeli kamera Sony NEX (Made in Japan) yang secara umum kualitasnya lebih baik. Belum lagi beberapa suvenir yang tidak kami temui di tempat lain. Dan yang seru juga, kami berempat memborong jam tangan Casio asli buatan Jepang on sale, seharga 120 ribu - 300 ribu. Wah nggak ada deh di Jakarta dengan harga seperti itu.

Beberapa toko di Akihabara, harganya dapat ditawar, seperti pada saat kami membeli kamera.

Setelah puas melihat-lihat dan berbelanja, kami makan malam di KFC sambil menghitung cicilan per bulan dari belanjaan kami, hehe... ;)

Karena hari sudah malam, kami putuskan untuk kembali ke hotel. Saya berdua teman saya sempat mampir dulu ke Ikebukuro karena stasiun Ikebukuro terlewati sepanjang perjalanan kami dari stasiun Akihabara ke stasiun Shin-okubo, tempat lokasi hotel kami.

Tempat ini ramai dengan toko-toko, restoran dan department store, kami hanya berkeliling untuk melihat-lihat dan satu jam kemudian kembali ke hotel.

Hari kesepuluh...

Jadwal kami hari ini adalah mengunjungi Meiji Jingu atau Meiji Shrine, yang merupakan Shinto Shrine yang diabadikan untuk Emperor Meiji dan istrinya Empress Shoken. Dibangun tahun 1915, dan resmi selesai pada tahun 1926. Terletak di hutan seluas 700.000 meter persegi, dengan pepohonan sebanyak 120.000 dari 365 jenis pohon yang berbeda.

Kami turun di stasiun Harajuku, dan berjalan kaki melalui Yoyogi Park yang asri dan rindang. Segar sekali udaranya, kami benar-benar menikmati waktu berada disana. Teringat saat berharga saya bersama keluarga pada kunjungan sebelumnya.

Kami juga menemui upacara pernikahan yang diselenggarakan disana, sangat menarik.

Keluar dari Meiji Shrine, kami menuju ke stasiun Yoyogi dan berniat mengunjungi Odaiba. Di perjalanan kami menemui gedung tinggi dengan frame pepohonan dan juga Hachiko Bus yang akan mengantar penumpang ke Shibuya.

Untuk mencapai Odaiba, dari stasiun Yoyogi kita harus transfer di stasiun Shimbashi terlebih dahulu, kemudian menggunakan Yurikamome Line menuju ke stasiun Odaiba-Kaihinkoen.

Odaiba adalah pulau buatan di Tokyo Bay. Dengan pemandangan indah, dihiasi Rainbow Bridge yang berdiri kokoh menghubungkan area ini dengan central Tokyo.

Disana tidak sengaja kami temui Cafe Cat, dimana orang dapat bermain dengan kucing selama satu jam dan mendapat satu gelas minuman. Harga untuk satu jamnya sekitar 150 ribu rupiah. Di depan meja cashier, terlihat foto-foto kucing beserta namanya.

Kami temui juga West Coast Choppers Tokyo disana.

Matahari telah terbenam pada saat kami mencapai pinggir pantai Odaiba. Pemandangan yang indah. Kami hanya meluangkan waktu sekitar satu jam disana, dikarenakan ingin kembali ke Akihabara yang akan segera tutup sekitar jam 8 malam.

Mengapa kami kembali lagi ke Akihabara? Teman kami ingin melihat Google Nexus yang baru dirilis... ;) dan juga satu teman kami kembali membeli Samsung Galaxy Note, untuk kerabatnya di Jakarta.

Kami kembali ke hotel, dan ini merupakan malam terakhir kami sebelum kembali ke Jakarta.

Hari kesebelas... Pulang ke Jakarta.

Dari hotel kami menuju stasiun Shinjuku menggunakan taxi. Dari sana menggunakan Narita Express menuju Narita International Airport terminal 1, harga tiketnya sekitar 350 ribu per orang, agak mahal memang, tapi ini cara paling nyaman dan efisien menuju airport.

Untuk perjalanan bersama/grup, sebaiknya tiket Narita Express ini dibeli sehari sebelum keberangkatan, agar kita dapat memilih tempat duduk yang berdekatan. Tiket counter buka mulai pukul 7 pagi, atau kita dapat membelinya di ticket machine.

Di dalam kereta Narita Express terdapat layar informasi lengkap mengenai semua jadwal maskapai penerbangan, lokasi terminal dan informasi lainnya. Kami mendapat informasi bahwa pesawat kami yang jadwal keberangkatannya jam 12 siang, di reschedule menjadi jam 11.50, jadi 10 menit lebih cepat dari jadwal sebelumnya. Belum pernah mengalami hal seperti itu, biasanya pesawat delay, sementara ini dipercepat... :) Sesampainya di airport, semua lancar. Seperti biasa semuanya tepat waktu di Jepang, pesawat kami berangkat sesuai jadwal.

Selamat tinggal Jepang, sungguh pengalaman yang sangat berharga bagi kami berempat. Semoga perjalanan ini dapat membuka wawasan kami dan berharap dapat kembali lagi suatu saat nanti.

Terima kasih buat semua teman-teman yang sudah mau meluangkan waktu membaca blog ini, semoga bermanfaat. Apabila ada informasi yang saya berikan tidak tepat, mohon koreksinya.

Sekian, sampai tulisan berikutnya, salam untuk semua.

----------

Catatan biaya perjalanan.

Tiket Rp. 4.250.000,-
JR Pass 7 hari Rp. 3.300.000,-
Hotel 10 malam Rp. 4.000.000,-
Hakone Free Pass Rp. 550.000,-
Konsumsi 11 hari Rp. 1.200.000,-
Transportasi lainnya Rp. 700.000,-
(train di luar JR, taxi, Narita Express)

TOTAL Rp. 14.000.000,-

 

Go Back

halo om didiek, mau tanya untuk tiket ke shirakawago nya beli langsung ditakayama ya? atau pesan dari hari-hari sebelumnya? thanks :)

Hallo juga... Iya betul kita belinya di Takayama, jadi turun dari kereta langsung dekat dengan stasiun bis dan bisa langsung pesan tiket untuk esok harinya.

JR rail pass berlaku return ga selama 7waktu yg diinginkan. Misalnya beli Jr pass berlaku 7 hari, mau ke Kyoto Dari Tokyo besoknya balik ke Tokyo lagi . Mending beli ngeteng atau gmn? Thank you

Mas didiek trimakasih infonya ,bermamfaat sekali .Mas didiek,sy mau ke jepang maret ini,dan jalan sendiri juga ,baca cerita perjlnannya asyiik banget,cuma sy heran ko mas hotelnya bisa murah 2,sy cari rata2 diatas 500 ribu perhari,saya pergi ber 4 dan usia saya sdh 59 th,

@Tien Suryatin

Salam kenal Mbak Tien, senang kalau info saya dapat membantu.
Waktu itu kita cari hotel di agoda.com dan hotels.com
Bisa jadi harga hotel-nya sekarang sudah naik ya Mbak... :(

Selamat jalan-jalan, pasti akan seru sekali disana, nanti saya di share ceritanya yah.
Salam buat teman-teman semua yang ikut.. :D

Terima kasih.

Hallo mas didiek,,salam kenal ya,,foto2nya kereeenn bangeud!! Sy rencana awal april ini ke jpn,selama 12 hari,jd agak leluasa lah ya,,kota yg sy singgahi : nagoya,osaka,kobe,kyoto,nara,tokyo,hakone,yokohama,balik lagi ke nagoya (pulang pergi dr nagoya) nah sebaiknya itu tiket JRP nya dipakenya hari keberapa ya?? Biar efektif,,rencana sy menginap di osaka,kyoto dan tokyo,apakah rencana sy itu udh bagus? Mohon sarannya ya,,makasih sebelumnya

Halo mas didiek, thank u buat blog nya, poto2nya superb.. hehe..

Mas sy mau tanya, waktu di akihabara beli barang elektronik seperti samsung itu better dimana ya? Outlet resmi samsung nya atau di toko2 biasa?

Dan pd saat kembali ke jakarta, apakah ada masalah dgn bea cukai bandara jakarta?

Thanks a lot,
Yani

Hallo Mbak Yani, makasih ya sudah mau liat2 blog-nya... :)

Di Akihabara kebanyakan bentuknya toko2 biasa, menjual berbagai macam elektronik.
Waktu itu kita belinya bukan di outlet khusus.

Syukur tidak ada masalah dengan bea cukai di Jakarta.

Selamat jalan-jalan ya...

Terima kasih, salam... :)
Didiek.



Comment